TULISAN 7
BER ANDAI
ANDAI DI KOTA
Namun, kau
berlalu begitu cepat. Aku menoleh, mencari dirimu, berharap melihat rambutmu
yang hitam kecokelatan di bawah tudung jaket biru itu, namun kau telah tiada.
Belasan orang menyapu jalanan, melangkah bersama di bawah guyuran dan dinginnya
hujan, dan kau telah tiada. Aku menatap tempatmu berada, tempatmu berlalu
beberapa menit yang lalu, atau mungkin beberapa detik? Lebih singkat dari
kedipan mata kita? Begitu singkat, hingga seolah tak pernah ada. Dirimu, yang
seolah menjadi satu-satunya warna di hitam-putihnya jalan tersebut, mungkinkah
hanya sebuah ilusi, atau khayalan?
Dan
mungkinkah waktu-waktu yang pernah kita alami bersama, di tengah jalan itu, di
bawah hujan, di kota tersebut, bertahun-tahun yang lalu, juga sebuah khayalan?
Jalanan
tersebut telah berubah. Aku ingat akan adanya sebuah pohon di ujung jalan
tersebut, dengan daun-daunnya yang lebat, batangnya yang sangat besar, menunduk
rendah memayungi jalan. Sesekali, kita membayangkan dahan-dahannya adalah
tangan, dedaunannya adalah jari-jemari, dan membayangkan usia pohon tersebut
yang sudah begitu tua, cukup tua hingga melampaui usia jalan tersebut, kota
tersebut, dan semua yang ada di isinya.
Kita
membayangkan pohon tersebut, Sang Tua, sebagaimana kita menyebutnya, dengan
daun-daunnya dan cabang-cabangnya, membelai para pejalan kaki, melindungi
mereka dari terik dan hujan, memberikan peneduh bagi kita di satu hari, di satu
hari saat hujan turun begitu derasnya dan pagar-pagar rumah di jalan tersebut
menjulang begitu tinggi dan angkuhnya. Di hari itu, pohon tersebut, dengan
rendah hatinya dan kemurahannya, menjadi satu-satunya pelindung bagi kita dan
para pejalan kaki lainnya. Kita, yang lupa untuk membawa payung. Kita, yang
tertawa, bercanda, di bawah pohon besar tersebut.
Kini, tak
ada lagi Sang Tua. Namun, rumah-rumah dengan pagar tinggi, angkuh dan
menjulang, tersebut masih ada. Di sisi ini, di bagian kota ini, adalah tempat
yang asing bagi kita. Dengan rumah-rumahnya yang mewah, megah, bagaikan istana.
Dulu, kita merasa nervous. Namun, kita tetap berjalan melewatinya, setiap hari
dan setiap waktu. Selain karena jalan tersebut merupakan jalan – bagaimana kau
menyebutnya – oh ya, jalan terobos dari sekolah menuju rumah kita, juga karena
kita, sebagaimanapun kita merasa tidak enak, dan apapun juga setiap melewati
tempat tersebut, kita juga menginginkan tempat tersebut. Bukan. Bukan sekedar
menginginkan. Kita mendambakan tempat tersebut.
Kita
mendambakan rumah yang sedemikian besar, demikian indah. Bagai istana yang
menjulang, tinggi di atas pegunungan, awan, memayungi semua yang ada di
bawahnya. Memberikan teduhan, pelindung, bagi orang-orang lainnya. Kita membayangkan
rumah yang demikian besar, hingga dapat menampung kita, seluruh keluarga kita.
Para pelayan yang sigap, setia; hidup bagai putri dan pangeran dan raja dan
ratu. Kita mendambakan kerajaan kita, membawa keluarga kita, dan diri kita
sendiri, untuk meninggalkan bagian kota kita itu.
Dosakah kita
untuk mengharapkan hal tersebut? Setelah belasan tahun tinggal di bagian kota
kita, salahkah kita untuk berharap bahwa suatu hari nanti kita akan sukses,
cukup sukses untuk membawa diri kita ke kehidupan yang lebih baik?
Lalu, kenapa kita harus berpisah seperti ini?
Kenapa kita
harus berusaha untuk mencapai hal tersebut dengan mengejar kesuksesan kita
masing-masing? Tak bisakah waktu membeku dan membiarkan kita melalui jalan
tersebut, bagian kota tersebut, bersama, selamanya? Berdua dengan impian-impian
kita, tanpa harus dipisahkan oleh cita-cita?
Ingatkah kau
akan bagian kota itu? Dengan gedung-gedungnya yang tinggi, rumah-rumahnya yang
bertingkat? Keluarga demi keluarga tinggal di sana, dan kita mengenal beberapa
dari mereka. Seorang anak kecil, mungkin berusia satu tahun, yang melihat kita
melewati tempat tersebut setiap harinya, sebuah konstanta dalam hidupnya?
Ingatkah kau akan hari-hari terakhir kita di bagian kota itu? Anak itu tertawa,
mengejar-ngejar kita, dan kita meraihnya dan menggendongnya. Ah, kau yang
menggendongnya, ya. Kau selalu yang senang dengan anak-anak, kau dengan hatimu
yang lembut, senyummu yang cerah, dan bahagia.
Ada sepasang
kakek dan nenek yang tinggal di rumah kecil di bagian kota itu. Si nenek selalu
menyapu teras rumahnya di setiap sore, di setiap kali kita melewati rumah
mereka, sementara si kakek berkebun di halaman. Rumah mereka, yang kecil, rapi,
dan bersih. Sesekali, kita akan bertanya-tanya apakah rumah mereka bisa sebersih
itu karena si nenek selalu bersih-bersih setiap hari? Mungkin ya, katamu, tapi
jangan lupakan andil si kakek, yang berkebun setiap hari juga.
Di hari-hari
terakhir kita di sana, si nenek tersenyum pada kita. Si kakek tak terlihat di
halamannya. Barulah beberapa hari kemudian kita mengetahui bahwa si kakek telah
meninggal.
“Tidakkah itu romantis?” Kau bertanya padaku.
“Tentu saja,” jawabku. Menghabiskan masa muda
hingga tua bersama, dengan usia sebagai satu-satunya pemisah? Tentu saja itu
sangat romantis. Maukah kita seperti itu? Namun, aku tak menanyakannya padamu.
Aku masih
bertanya-tanya sampai sekarang, apakah jika aku bertanya, segalanya akan
berbeda.
Kau tahu,
sudah bertahun-tahun berlalu, namun kenangan akan dirimu masih tersisa. Aku
mengira, di hari kita berpisah, kau dan aku dengan jalan kita masing-masing,
kita takkan bertemu lagi. Kita takkan mengingat satu sama lain, lagi. Untuk
apa? Apa alasannya untuk kita bertemu lagi? Tak ada janji yang kita pernah kita
buat bersama. Tak ada pakta ataupun sumpah setia. Bahkan perasaanku pun kau tak
tahu.
Aku masih
bertanya-tanya, apakah jika aku memberitahumu perasaanku, segalanya akan
berbeda.
Sepuluh
tahun, dan kota ini masih di guyur hujan. Aku berjalan melewati jalan tersebut,
jalan kita, bagian kota itu, menuju bagian kota kita, lagi. Sepuluh tahun sudah
aku tak mengunjungi kota kita. Begitu banyak yang berubah, begitu banyak yang
tertinggal. Seperti kenangan akan dirimu. Seperti fakta bahwa aku masih
melihatmu. Dimanapun, di berbagai sudut di kota ini.
Dan
lihatlah, aku baru saja melihatmu lagi. Sedang berdiri di depan rumah lamaku,
dengan jaket biru yang menudungi kepalamu. Aku melihatmu menoleh kepadaku, aku
melihat wajahmu yang telah menua sepuluh tahun, tapi sejujurnya, aku pikir kau
tak menua sedikit pun. Waktu tak memiliki kekuatan untuk mengurangi
kecantikanmu di mataku. Dan waktu juga tak kuasa untuk mengurangi perasaanku
padamu.
Dan
lihatlah, aku melihatmu berjalan menghampiriku. Kau tersenyum, dan hujan ini
berhenti. Matahari bersinar. Dan saat itulah, aku tahu.
“Hai.” Kau
berkata.
“Hai.” Aku
menjawab dengan bodohnya. “Kau kembali.”
“Tentu
saja,” jawabmu. Kemudian, kau memelukku, memeluk pria bodoh ini, yang belum
bisa melupakanmu selama ini. Pria bodoh yang belum pernah mengungkapkan
perasaannya padamu, bahkan setelah belasan tahun bersama, bahkan di saat-saat
terakhir kita, sepuluh tahun yang lalu, di kota ini, kota kita dengan seluruh
bagian-bagiannya. Di bawah awan kelabu, hujan yang rintik, udara yang sejuk,
dan matahari yang mengintip dengan cerahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar